Sejarah Digitalisasi Indonesia

Sejarah Digitalisasi Indonesia. Digitalisasi teknologi turut mengubah aktivitas bisnis di bidang permusikan. Banyak perangkat konvensional seperti kaset dan semakin mengandalkan platform pemutar musik digital. Perusahaan recaman beradaptasi. Salah satu label tertua di tanah air yang terus bertahan Sampai sekarang.
Kilas balik perjalanan industri musik nasional tak bisa melepaskan peran nya. Tapi sebelum label milik pemerintah ini beroperasi pada era 1950-an sudah ada usaha swasta yang lebih dulu bergerak di bidang ini.Sejarah Digitalisasi Indonesia

1. Era 1940

Dokumen Badan Ekonomi kreatif terkait rencana pengembangan industri musik nasional menyebutkan,perusahaan rekaman Tio Tek yang bertempat di Batavia .
Studio tersebut merekam lagu-lagu penyanyi asal indonesia pada masa peperangan dunia. Jenis musik yang beredar sebagian besar lagu kroncong,gambus,dan juga lagu-lagu kebangsaan.

2. Era 1950

Pada masa ini, Genre musik bergeser ke pop. Kondisi ini seiring dengan kemunculan label rekaman swasta lainnya.
Pada era 1950 lokananta fokus merilis lagu kedaerahan sembari memproduksi dan menduplikasi piringan hitam.

3. Era 1960 an

Memamsuki 1960,beberapa label rekaman baru hadir,seperti H1ns Collection dan akurama. Pada tahun-tahun ini juga banyak terjadi perkemangan medium rekamana dengan pesat.Piringan hitam dengan harga relatif mahal tergeser kehadiran kaser.

4. Era 1970

Industri permusikan tahah air memasuki perjalanan panjang mulai. Salah satu perubahan yang terjadi adalah kehadiran perusahaan rekaman dengan peralatan lebih modern pada 1976
Recording studio terserbut mengoperasikan alat bersistem depalan sampai dengan 16 track dalam memproduksi musik untuk film. Studio Triple M dan Musica Studio termasuk label rekaman yang pertama menerapkannya. Selain itu,Hadir tape recorder untuk merekam lagu dari slaran radio maupun piringan hitam.imbasnya,semakin banyak beredar kaset kosong untuk menyimpan rekamana menggunakan alat baru ini.

Sealin itu selama era 1970 juga terjadi perubahan di pasar musik nasional,yakni semakin banyak yang menggandrungi gendre pop. Banyak musisi yang tidak mengikuti pasar lantas karirnya meredup.
Label rekaman berusaha beradaptasi dengan menghadirkan produser. Dampaknya,musisi mereka kebebasan berkreasi terpangkas. Mereka yang ngekritik soal ini adalah Zaenal Arifin. Pada tpengunjung tahun 1970 muncul teknologi dan sistem yang lebih maju menggunakan shift berkapasitas hingga 32 tracks.
Seiring dengan dinamika yang ada, ANI Menekankan bahwa dunia musik merupakan area yang harus di atur tegas melalui regulasi.

5. Era 1980

Menapaki 1980,studio rekaman remaco bangkrut sedangankan musical semakin berjaya dengan mengusung kontrak jangka panjang dengan pemusik tanh air. Lima tahun kemudian,Industri rekaman sempat dikecam dunia Internasional akibat marak menyanyikan lagu asing tanpa ijin. perkemangan lain ialah penrapan sistem pembayaran Flat dan nonflat. Skema flat pay arti nya pembelian dan termasuk semua keuntungan yang dimiliki produser atau pemilik. Penyanyi Ganya Menerima Honor rekamana dan mendapatkan bomus jika laris albumnya.